Indonesia Bisa Jadi Pembeli Pertama Pesawat Amfibi Be-200 Rusia
31 Mei 2016
Pada Oktober 2015, Presiden Joko Widodo mengutarakan bahwa Indonesia berencana membeli tiga pesawat pemadam kebakaran untuk mengatasi kebakaran hutan. Sumber: Sergey Subbotin/RIA Novosti
Rusia mungkin akan segera menandatangani kontrak pertama pengiriman pesawat amfibi serbaguna Beriev Be-200 dengan Indonesia. Demikian hal tersebut dikabarkan Sputnik, mengutip Presiden United Aircraft Corporation (UAC) Yury Slyusar, Senin (30/5).
"Ada banyak pelanggan asing yang tertarik (dengan Be-200). Sayangnya, hingga saat ini, minat ini tidak berujung pada kontrak nyata. Kami berharap bahwa kontrak pengiriman pesawat dengan Indonesia akan menjadi salah satu kontrak kerja sama teknis pertama," kata Slyusar kepada para wartawan.
Slyusar menambahkan bahwa ketertarikan terhadap Be-200 salah satunya adalah karena keunikan pesawat itu. Be-200 adalah satu-satunya pesawat amfibi reaktif di dunia.
Pesawat Be-200 adalah pesawat amfibi Rusia yang unik dan sangat cocok untuk melakukan misi pemadaman kebakaran. Pesawat ini dapat mendarat di air dan mengangkut ribuan galon air ke dalam lambung pesawat dan kemudian menyemprotkannya ke atas kobaran api. Selain itu, pesawat ini juga dapat dikonfigurasi untuk misi pencarian dan penyelamatan korban pesawat sipil.
Pada Februari lalu, Indonesia dikabarkan berencana membeli empat unit pesawat amfibi Beriev Be-200 Rusia. Menurut sumber dari industri pertahanan Rusia, kontrak akan ditandatangani dalam waktu dekat.
Pada akhir Oktober 2015 lalu, Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna mengumumkan bahwa pemerintah hendak menambahkan pesawat amfibi Rusia ke dalam armada Angkatan Udara Indonesia. Pesawat tersebut direncanakan akan digunakan sebagai alat utama sistem persenjataan, termasuk di antara tugasnya yaitu membantu penyemaian garam hujan buatan di daerah yang tertimpa bencana asap.
"Agus mengakui, pesawat Be-200 terbukti lebih efektif dalam mengangkut air untuk menyemprot lahan-lahan yang terbakar."
Dengan dua mesin jet di atas sayapnya, pesawat Be-200 dapat lepas landas di landasan pacu yang hanya sepanjang 1.800 meter, di perairan tertutup, bahkan di laut dengan kedalaman lebih dari dua meter dan tinggi ombak 1,2 meter (atau gelombang dengan kekuatan berskala 3).
Pesawat Be-200 milik Rusia ini juga tidak perlu mendarat untuk melakukan pengisian air. Saat melakukan gerakan "planing" (gerakan mengapung di atas air), Be-200 dapat mengumpulkan 12 – 13 ton air dalam waktu 12 – 14 detik. Selain itu Be-200 dapat mengangkut hingga 37.200 kilogram air dan terbang di ketinggian 3.850 tanpa perlu mengisi ulang bahan bakar.

Komentar
Posting Komentar